Kamis, 23 Mei 2013

Hikmah Dan Tujuan Isra’ Dan Mi’raj




Hikmah Dan Tujuan Isra’ Dan Mi’raj
  oleh : Ust. Asy'ari Masduki, MA



Allah ta’ala berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاَ مِّنَ اْلمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى اْلمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha suci Allah yang memperjalankan hambanya pada suatu malam dari masjidil haram ke masjid al aqsha yang kami berkahi sekelilngnya untuk aku perlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanku, sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi maha melihat” (Q.S al Isra: 1) Isra’


Di antara mukjizat Rasulullah yang paling besar adalah mukjizat Isra dan Mi’raj. Isra’ artinya bahwa nabi diperjalankan pada suatu malam dari Masjid al Haram (makkah al mukarramah) ke masjid al Aqsha (Palestina). Dari sana kemudian Rasulullah di mi’rajkan, yaitu dinaikkan dari al-Masjid al-Aqsha hingga ke atas langit ketujuh dengan menaiki tangga yang terpaut di antara langit dan bumi. Setiap anak tangga tersebut terbuat dari emas perak.  

Keajaiban-Keajaiban Isra’
Pada peristiwa Isra’ banyak keajaiban yang ditunjukkan oleh Allah kepada Rasulullah, di antaranya adalah:
1.         Dunia, Rasulullah melihat dunia dalam bentuk orang tua renta
2.         Iblis, Rasulullah melihat Iblis sedang berteriak-teriak memanggil beliau.
3.         Rasulullah mencium bau harum dari kubur Masyithah binti Fir’aun (tukang sisir putri Rasulullah), yang telah mati syahid bersama seluruh keluarganya karena mempertahankan keimanannya.
4.         Al Mujahidun fi Sabilillah, Rasulullah melihat sekelompok orang yang menanam tanaman dan memanennya dalam waktu dua hari. Jibril menjelaskan bahwa itu adalah gambaran orang-orang yang berjihad fi sabilillah
5.         Khuthaba’ al Fitnah, Rasulullah melihat orang-orang yang lisan dan bibir mereka dipotong dengan gunting yang berasal dari api. Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah khuthabaul fitnah (orang-oraang yang berceramah untuk menyebarkan keburukan dan fitnah di masyarakat, mengajak masyarakat pada kesesatan dan kerusakan, penipuan dan khianat).
6.         Orang yang berbicara dengan kata-kata yang rusak, Rasulullah melihat kerbau jantan yang keluar dari lobang yang kecil kemudian dia mau masuk kembali namun tidak bisa. Jibril menjelaskan bahwa ini adalah gambaran orang yang berbicara dengan perkataan yang rusak yang mengandung bahaya dan fitnah bagi masyarakat, kemudian dia ingin menarik ucapannya itu, namun sudah tidak bisa lagi.
7.         Orang-orang yang enggan membayar zakat, Rasulullah melihat sekelompok orang berteriak seperti binatang ternak. Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah gambaran orang-orang enggan membayar zakat.
8.         Orang-orang yang meninggalkan shalat, Rasulullah melihat sekelompok orang yang memecahkan kepalanya sendiri kemudian kepala yang pecah itu kembali lagi seperti semula. Jibril menjelaskan, bahwa itu adalah gambaran orang yang enggan melaksanakan shalat
9.         Para pezina, Rasulullah melihat sekelompok orang yang berlomba-lomba untuk berebut daging yang busuk dan membiarkan daging yang masih baik. Jibril menjelaskan, mereka adalah di anatara umatmu yang meninggalkan yang halal mereka tidak mau memakannya dan mendatangi yang haram kemudian memakannya. Mereka juga gambaran orang-orang yang berzina.
10.    Para peminum khamer, Rasulullah melihat sekelompok orang yang meminum nanah yang keluar dari para kemaluan para penzina. Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah gambaran para peminum khamer.
11.    Orang-orang pekerjaannya ghibah, Rasulullah melihat sekelompok orang yang menggaruk-garuk muka dan dada mereka dengan kuku yang terbuat dari besi. Jibril menjelaskan mereka adalah gambaran orang-orang yang senang ghibah (menggunjingkan orang lain/ membicarakan keburukan yang ada pada orang lain dibelakangnya)


Keajaiban-Keajaiban Mi’raj
Ketika Rasulullah berada di suatu tempat yang lebih tinggi dari langit ketujuh, beliau diperlihatkan oleh Allah beberapa keajaiban ciptaan-Nya, antara lain :
1.             Al-Bait al-Ma’mur; yaitu tempat/rumah yang dimuliakan, yang berada di atas langit ketujuh. Setiap hari sebanyak 70.000 malaikat masuk ke dalam rumah tersebut lalu keluar dan tidak akan pernah kembali lagi, demikian seterusnya. Al-Bait al-Ma’mur ini bagi para malaikat laksana Ka’bah bagi manusia di bumi. Ia menjadi tempat untuk thawaf.
2.             Sidrat al-Muntaha; yaitu sebuah pohon yang sangat besar dan indah. Tidak ada seorangpun diantara makhluk Allah yang dapat menggambarkannya. Jika seseorang melakukan perjalanan di bawah naungan pohon tersebut dengan menaiki kendaraan yang cepat, akan menghabiskan waktu 70 tahun.
3.             Surga; yaitu rumah balasan kebaikan atau tempat kenikmatan yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Surga saat ini telah diciptakan Allah, ia berada di atas langit ketujuh. Sabda Rasulullah ketika menceritakan peristiwa Mi’raj:
اِطَّلَعْتُ فِى الْــجَنَّةِ فَــرَاَيْتُ اَكْثَـرَ اَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ (رواه البخاري ومسلم(
Maknanya: “Aku melihat surga, dan aku melihat mayoritas penduduknya adalah orang-orang fakir”. H. R. al-Bukhari dan Muslim.
4. Arsy; yaitu makhluk Allah yang paling besar bentuknya. Tidak ada makhluk Allah yang lebih besar dari Arsy. Arsy bukan tempat bersemayam bagi Allah, karena Allah tidak membutuhkan tempat. Sayyidina ‘Ali berkata :
إنَّ اللهَ خلَقَ العَرْشَ إظهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ يَتّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
Maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”. Lihat kitab al-Farqu bainal Firaq, hlm. 333.


Tujuan Isra dan Mi’raj
Tujuan dan hikmah sebenarnya dari Isra’ dan Mi’raj adalah untuk memuliakan Rasulullah dan untuk memperlihatkan kepadanya beberapa keajaiban ciptaan Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Isra’ ayat 1: لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنا (Agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami). Selain itu, isra’ dan mi’raj juga ditujukan untuk mengagungkan derajat Nabi Muhammad, serta sebagai penguat hati beliau dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang dilontarkan orang-orang kafir Quraisy, terlebih setelah ditinggal mati oleh paman beliau Abu Thalib dan isteri beliau Khadijah.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan, sebagaimana ditetapkan para ulama Ahlussunnah, bahwa tujuan dari Isra’ dan Mi’raj bukanlah untuk menemui Allah. Barangsiapa yang berkeyakinan seperti ini maka ia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Allah berfirman:
فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Maknanya: “Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) dari alam semesta”. Q. S. Ali Imran: 97.
Allah tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk. Tidak boleh dikatakan bagi-Nya di atas, di bawah, di depan, di belakang atau di semua arah.  Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Maknanya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah baik dari satu segi maupun semua segi”. Q. S. as-Syura [42]: 11.

Wahyu Yang Diterima Rasulullah Saat Mi'raj
Ketika Nabi berada di atas Sidrat al-Muntaha beliau mendengar kalam Allah yang dzati azali dan abadi, bukan berupa bahasa, huruf dan suara. Allah membuka hijab dari Rasulullah; Allah memperdengarkan kalam-Nya pada saat Rasulullah berada di suatu tempat di atas Sidratul Muntaha; suatu tempat yang tidak pernah dikotori dengan perbuatan maksiat dan bukan tempat di mana Allah berada seperti dugaan sebagian orang, sebab Allah ada tanpa tempat.
Di antara wahyu yang beliau terima ketika itu adalah:
1.Kewajiban sholat 50 kali dalam sehari semalam bagi umatnya. Kemudian terjadilah dialog dengan Nabi Musa yang menganjurkan agar Nabi meminta keringanan kepada Allah dan akhirnya diwajibkan bagi ummat Islam hanya lima kali sholat dalam sehari semalam, namun nilai sekali sholat tersebut sebanding dengan sepuluh kali sholat sehingga lima kali sholat sebanding dengan lima puluh kali sholat.
2. Bahwa Allah akan mengampuni dosa besar yang dilakukan oleh ummat Muhammad yaitu bagi orang-orang yang dikehendaki oleh Allah. Sedangkan orag kafir, tidak akan pernah diampuni oleh Allah
3. Barang siapa yang beramal kebaikan maka di catat untuknya 10 kebaikan dan barang siapa berniat melakukan kebaikan maka di catat untuknya satu buah kebaikan, meskipun belum dilakukan. Dan apabila seseorang berniat melakukan keburukan dan kemudian melakukannya maka di catat satu keburukan untuknya.



0 komentar:

Poskan Komentar